Menerapkan Prinsip Hick’s Law pada Menu Navigasi yang Ramai
Buka sebuah situs berita, lalu lihat bilah navigasi di bagian atas. Ada sepuluh, kadang lima belas tautan berjejer dari “Beranda” sampai “Info Perusahaan”. Mata pembaca berhenti sejenak, menyapu semua label, lalu memilih satu tanpa benar-benar yakin. Situasi ini menggambarkan persoalan yang coba dijawab oleh Hick’s Law: menerapkan prinsip Hick’s Law pada menu navigasi berarti mengatur jumlah dan susunan pilihan agar pengguna tidak terjebak lama di titik keputusan pertama.
Namanya diambil dari psikolog William Hick yang pada 1952 mengukur waktu reaksi manusia terhadap sejumlah stimulus. Semakin banyak pilihan yang harus dibedakan, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk memilih. Waktu itu naik mengikuti pola logaritmik, sehingga lonjakan terbesar terjadi saat pilihan bertambah dari satu ke dua, lalu dari dua ke empat, dan seterusnya. Dalam desain antarmuka, pola itu menjelaskan kenapa menu yang terlalu padat terasa melelahkan bahkan sebelum pengguna mengklik apa pun.
Apa yang sebenarnya diukur Hick’s Law
Waktu keputusan dipengaruhi oleh dua hal: jumlah opsi yang tersedia dan seberapa mirip opsi-opsi itu satu sama lain. Menu dengan lima pilihan yang jelas berbeda lebih cepat diproses daripada menu dengan lima pilihan yang mirip, misalnya “Produk”, “Layanan”, “Solusi”, “Paket”, dan “Penawaran”. Pengguna perlu membaca ulang untuk menemukan bedanya, dan di situ waktu tambahan terpakai.
Karena itu, menyederhanakan menu tidak selalu berarti memangkas jumlah tautan. Mengganti label yang kabur dengan istilah yang langsung dikenali sering memberi efek lebih besar. Label “Solusi” yang tidak menjelaskan apa pun memaksa pengguna menebak, sementara “Integrasi API” atau “Paket Harga” langsung memberi kepastian.
Menata tingkat pertama navigasi
Navigasi utama adalah tempat paling mahal untuk menaruh pilihan. Setiap tautan di sana bersaing untuk perhatian dengan tautan lain, dan pengguna yang baru datang belum punya cukup konteks untuk menilai mana yang relevan. Beberapa langkah praktis yang bisa langsung dicoba:
- Batasi item tingkat pertama pada lima sampai tujuh tautan. Di atas itu, pertimbangkan untuk memindahkan sebagian ke tingkat kedua.
- Urutkan berdasarkan frekuensi pemakaian, bukan berdasarkan struktur organisasi internal.
- Gunakan kata yang muncul di kepala pengguna, bukan istilah internal tim.
- Tempatkan aksi utama (masuk, daftar, hubungi) terpisah dari kelompok navigasi jelajah.
- Uji dengan membacakan label satu per satu kepada orang yang belum pernah melihat situs, lalu tanyakan ke mana mereka kira tautan itu mengarah.
Jika menu sudah terlanjur panjang, pengelompokan visual membantu. Pengguna memproses kelompok lebih cepat daripada membaca daftar datar. Pemisah tipis atau jarak antar-kelompok memberi petunjuk bahwa ada tiga area berbeda, bukan dua belas pilihan setara.
Dropdown dan menu bertingkat
Menu dropdown menyelesaikan masalah jumlah dengan menyembunyikan pilihan di balik satu label. Namun ia menciptakan masalah baru: pengguna harus melakukan satu langkah tambahan sebelum bisa melihat isinya, dan isi itu bisa saja berjumlah dua puluh tautan. Di titik ini Hick’s Law kembali berlaku di dalam dropdown.
Dropdown yang sehat punya judul kelompok dan isi yang pendek. Jika sebuah kelompok melebihi delapan tautan, pecah lagi atau pindahkan sebagian ke halaman kategori. Menu mega yang menampilkan semua tautan sekaligus biasanya memindahkan beban dari klik ke pemindaian visual, dan hasilnya sering sama melelahkan.
Menu yang baik membuat pengguna merasa tahu ke mana harus pergi sebelum sempat ragu.
Menguji beban pilihan dengan data
Perubahan menu sebaiknya tidak diputuskan hanya dari perasaan. Ada beberapa cara mengumpulkan bukti sederhana tanpa alat mahal. Pertama, catat waktu yang dibutuhkan peserta untuk menemukan satu tujuan tertentu, misalnya halaman harga. Kedua, minta mereka menyebutkan ke mana tiap label utama mengarah. Ketiga, perhatikan apakah mereka membuka menu berulang kali sebelum memutuskan, tanda bahwa label tidak cukup menjelaskan.
Untuk pengujian yang lebih terstruktur, metode yang dijelaskan di panduan memilih metode evaluasi usability bisa dipakai sebagai acuan. Jika menu sudah dalam bentuk prototipe, mengujinya lebih awal menghemat waktu dibanding memperbaiki setelah rilis. Anda bisa menyiapkan versi uji di Figma, Penpot, atau Axure dan membandingkan dua susunan menu berdampingan.
Pada situs yang memuat banyak konten dari basis data, jumlah tautan bisa membengkak tanpa disadari. Saat menampilkan daftar kategori atau arsip dari database, misalnya lewat cara menampilkan data dari database ke HTML dengan PHP, tetapkan batas jumlah item yang muncul di navigasi. Sisa item bisa masuk ke halaman indeks tersendiri.
Kapan banyak pilihan justru tepat
Hick’s Law tidak berarti semua menu harus berisi lima tautan. Pada katalog produk, pengguna datang dengan niat membandingkan, dan mengurangi pilihan secara berlebihan bisa membuat mereka kehilangan opsi yang dicari. Yang perlu dijaga adalah keteraturan: filter, urutan logis, dan label yang konsisten. Pengguna yang sedang membandingkan bersedia meluangkan waktu lebih, asalkan tidak tersesat.
Hal serupa berlaku untuk panel pengaturan. Pengguna yang membuka halaman pengaturan biasanya sudah tahu apa yang dicari. Di sana, daftar panjang dengan judul bagian yang jelas lebih membantu daripada menu bertingkat yang menyembunyikan opsi di balik beberapa klik.
Menghindari pengulangan masalah di tempat lain
Menu bukan satu-satunya titik keputusan. Bilah aksi pada tabel data, tombol di dalam modal, dan pilihan pada formulir juga terkena prinsip yang sama. Formulir panjang dengan banyak pilihan radio sering membuat responden berhenti di tengah jalan. Cara menata opsi pada formulir dibahas lebih rinci di tips desain formulir yang mudah diisi pemula, dan prinsipnya sejalan: kurangi pilihan yang tidak perlu, kelompokkan sisanya.
Saat menulis kode untuk menyusun menu, pemilihan elemen yang tepat memengaruhi seberapa mudah struktur diubah nanti. Menandai kelompok menu dengan atribut yang konsisten membuat pengaturan jumlah dan urutan tidak berantakan. Referensi cara memilih elemen dengan selector jQuery berguna bila Anda perlu memanipulasi item menu secara dinamis, misalnya menyembunyikan tautan tertentu di layar kecil.
Ringkasan
Menerapkan prinsip Hick’s Law pada menu navigasi berfokus pada dua hal: jumlah pilihan di tiap tingkat dan kejelasan label. Batasi item tingkat pertama, kelompokkan sisanya, dan uji dengan pengguna sungguhan sebelum dan sesudah perubahan. Menu yang rapi tidak menjamin situs berhasil, tetapi menu yang membingungkan hampir selalu memperlambat pengguna di langkah pertama.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah Hick’s Law melarang menu dengan banyak item?
Tidak. Prinsip ini menjelaskan hubungan antara jumlah pilihan dan waktu keputusan, bukan menetapkan batas angka. Menu besar masih bisa dipakai jika pilihannya dikelompokkan dengan jelas dan labelnya mudah dibedakan. Yang perlu dihindari adalah daftar panjang berisi istilah yang mirip atau tidak dikenal pengguna.
Bagaimana cara mengukur dampak perubahan menu?
Ukur waktu peserta menemukan tujuan tertentu dan catat berapa kali mereka membuka menu sebelum memilih. Bandingkan angka itu antara versi lama dan versi baru dengan tugas yang sama. Jika waktu memendek dan kesalahan menurun, perubahan menu bekerja.
Apakah prinsip ini berlaku untuk navigasi seluler?
Berlaku, dan sering lebih terasa karena layar sempit membatasi jumlah item yang terlihat sekaligus. Menu seluler yang menumpuk banyak tautan memaksa pengguna menggulir di dalam panel kecil. Prioritaskan tautan yang paling sering dipakai dan pindahkan sisanya ke halaman indeks.