Dua orang sedang melakukan sesi usability testing dengan laptop dan lembar catatan di ruang rapat

Panduan Langkah demi Langkah Melakukan Usability Testing untuk Pemula

Anda baru saja merilis formulir pendaftaran, lalu ada pengguna yang mengirim tangkapan layar karena tidak menemukan tombol kirim. Kejadian seperti ini biasanya membuat tim sadar perlu menguji desain ke pengguna nyata. Panduan langkah demi langkah usability testing untuk pemula ini membahas cara menjalankannya tanpa alat mahal dan tanpa latar belakang riset formal.

Apa yang perlu disiapkan sebelum menguji

Usability testing adalah kegiatan mengamati orang menyelesaikan tugas tertentu pada produk Anda, lalu mencatat di mana mereka tersandung. Anda tidak perlu merekam wajah atau menyewa laboratorium. Yang perlu disiapkan: satu tugas yang jelas, satu peserta, dan cara mencatat temuan.

Tentukan dulu pertanyaan yang ingin dijawab. Contoh: apakah pengguna baru bisa menyelesaikan pendaftaran dalam waktu wajar tanpa bantuan? Pertanyaan ini akan menentukan tugas yang Anda berikan dan data yang dicatat.

Siapkan juga versi produk yang bisa diuji. Kalau masih berupa desain, gunakan prototipe yang bisa diklik. Untuk membuatnya, Anda bisa mengikuti langkah di cara membuat wireframe low-fidelity untuk pemula sebagai dasar, lalu hubungkan layar-layarnya di alat prototyping pilihan Anda.

Langkah 1: Tentukan tugas dan ukuran keberhasilan

Tugas harus spesifik dan berakhir pada kondisi yang bisa diamati. Tulis dalam bentuk kalimat yang bisa dibacakan ke peserta, misalnya: “Daftarkan akun baru menggunakan email Anda, lalu masuk ke halaman utama.”

Hindari tugas yang terlalu luas seperti “jelajahi situs ini”. Tugas luas membuat Anda sulit menilai berhasil atau gagal. Untuk setiap tugas, tetapkan kriteria keberhasilan, misalnya peserta mencapai halaman konfirmasi tanpa bantuan.

Catat juga metrik sederhana: waktu penyelesaian, jumlah kesalahan, dan apakah peserta butuh bantuan. Metrik ini berguna saat Anda ingin mengukur peningkatan setelah perbaikan, seperti pendekatan pada pengukuran task success rate formulir pendaftaran.

Langkah 2: Rekrut peserta yang mendekati pengguna nyata

Untuk pemula, lima peserta sudah cukup untuk menemukan sebagian besar masalah besar pada satu alur. Rekrut orang yang memiliki kemiripan dengan target pengguna: latar belakang, kebiasaan, atau tingkat pengalaman menggunakan produk sejenis.

Hindari merekrut rekan satu tim atau orang yang sudah tahu cara kerja produk. Mereka cenderung menyelesaikan tugas dengan pengetahuan yang tidak dimiliki pengguna biasa. Sebagai gantinya, tawarkan insentif kecil kepada orang di luar tim, misalnya rekan dari divisi lain yang belum pernah melihat produk.

Jadwalkan sesi 30-45 menit per peserta. Sisakan waktu untuk perkenalan, pemberian tugas, dan tanya jawab singkat di akhir.

Langkah 3: Siapkan skrip dan ruang pengujian

Skrip menjaga sesi tetap konsisten. Isinya: ucapan terima kasih, penjelasan bahwa yang diuji adalah produk, bukan peserta, izin merekam, lalu tugas-tugas. Bacakan skrip apa adanya agar semua peserta mendapat informasi yang sama.

Ruang pengujian tidak harus khusus. Ruang rapat yang tenang atau panggilan video sudah memadai. Yang penting: peserta bisa berbagi layar dan Anda bisa mencatat tanpa mengganggu.

Siapkan lembar catatan dengan kolom: peserta, tugas, berhasil/gagal, waktu, kesalahan, dan kutipan menarik. Catatan sederhana ini akan sangat membantu saat menyusun laporan.

Langkah 4: Jalankan sesi dan catat apa yang terjadi

Saat sesi berlangsung, minta peserta berpikir keras (think aloud). Mereka mengucapkan apa yang dilihat dan dipikirkan, misalnya “Saya mencari tombol daftar di kanan atas”. Metode ini membantu Anda memahami alasan di balik klik yang salah.

Hindari membantu peserta saat mereka macet. Jika mereka bertanya “Apakah saya harus klik ini?”, jawab dengan pertanyaan balik: “Menurut Anda, apa yang seharusnya terjadi?” Bantuan yang Anda berikan menghilangkan data tentang kesulitan yang sebenarnya.

Perhatikan bahasa tubuh dan ekspresi frustrasi. Catat momen ketika peserta berhenti, mengulang langkah, atau membaca ulang instruksi. Detail seperti ini sering menjadi petunjuk masalah desain yang perlu diperbaiki.

Langkah 5: Olah catatan menjadi temuan yang bisa ditindaklanjuti

Setelah semua sesi selesai, kumpulkan catatan dan kelompokkan masalah yang muncul. Tandai masalah yang dialami oleh lebih dari satu peserta sebagai prioritas. Tulis temuan dalam kalimat yang menyebutkan konteks dan dampaknya, misalnya: “Tiga dari lima peserta tidak menyadari bahwa kolom nomor telepon wajib diisi karena tidak ada tanda bintang.”

Untuk setiap temuan, usulkan perbaikan konkret. Jika masalahnya pada formulir, Anda bisa merujuk ke tips desain formulir yang mudah diisi pemula. Jika masalahnya pada alur navigasi, pertimbangkan untuk menguji ulang setelah perubahan.

Jangan hanya mengandalkan ingatan. Rekam layar jika peserta setuju. Rekaman memudahkan Anda mengutip kejadian persis saat mempresentasikan hasil ke tim.

Langkah 6: Bagikan hasil dan rencanakan uji berikutnya

Susun laporan singkat: satu halaman ringkasan, daftar temuan berprioritas, dan rekomendasi. Sertakan kutipan peserta dan potongan rekaman sebagai bukti. Hindari laporan panjang yang tidak dibaca tim.

Diskusikan temuan dengan tim pengembang dan desainer. Tentukan perbaikan mana yang masuk sprint berikutnya. Setelah perbaikan diterapkan, jalankan uji ulang dengan tugas yang sama untuk melihat apakah masalahnya berkurang.

Usability testing bukan kegiatan sekali selesai. Jadwalkan sesi rutin, misalnya setiap kali ada fitur baru atau perubahan besar pada alur utama. Semakin sering dilakukan, semakin cepat tim Anda mengenali pola masalah yang berulang.

Ringkasan

Menjalankan usability testing untuk pemula tidak memerlukan alat mahal. Mulai dari tugas yang jelas, rekrut peserta yang mendekati pengguna nyata, jalankan sesi dengan skrip, lalu olah catatan menjadi temuan berprioritas. Dengan begitu, keputusan desain Anda berpijak pada perilaku pengguna, bukan asumsi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa jumlah peserta minimal untuk usability testing?

Untuk satu putaran pengujian pada satu alur, lima peserta sudah cukup untuk menemukan masalah besar. Jika produk Anda memiliki beberapa kelompok pengguna yang berbeda, tambah peserta dari masing-masing kelompok.

Apakah harus menggunakan alat perekam khusus?

Tidak. Perangkat video conference yang bisa merekam layar dan suara sudah memadai. Yang lebih penting adalah izin peserta dan catatan yang rapi.

Bagaimana jika peserta tidak bisa menyelesaikan tugas?

Itu justru temuan berharga. Catat di langkah mana mereka berhenti, apa yang mereka coba lakukan, dan mengapa mereka menyerah. Informasi ini menunjukkan bagian desain yang perlu diperbaiki.