Meja desainer dengan sketsa antarmuka dan laptop berisi rancangan prototipe

Aplikasi Prototyping UX: Figma, Penpot, dan Axure

Klien meminta perubahan pada langkah verifikasi dua faktor di hari Selasa. Kamu buka file prototipe, menggeser satu frame, memperbarui tautan, dan mengirim ulang tautan kepada tim engineering. Kalau file itu dibangun dengan tool yang tepat, perubahan seperti ini memakan sepuluh menit. Kalau tidak, kamu menghabiskan sisa hari mengatur ulang interaksi yang berantakan. Pilihan aplikasi prototyping UX menentukan seberapa cepat iterasi seperti ini berjalan.

Artikel ini membandingkan tiga tool yang paling sering dipakai tim produk: Figma, Penpot, dan Axure RP. Ketiganya bisa membuat prototipe yang bisa diklik, tetapi cara kerja dan batas kemampuannya berbeda jauh.

Kriteria yang Perlu Dibandingkan Sebelum Memilih

Sebaiknya tentukan dulu jenis prototipe yang akan sering dibuat. Prototipe low-fidelity untuk uji konsep awal tidak menuntut tool yang sama dengan prototipe high-fidelity untuk demo ke stakeholder atau pengujian dengan pengguna.

  • Kedalaman interaksi: apakah cukup perpindahan antar layar, atau perlu logika kondisional, variabel, dan perhitungan.
  • Kolaborasi: berapa banyak orang yang akan menyunting file yang sama, dan apakah mereka bekerja di tempat yang sama.
  • Handoff ke developer: apakah engineering bisa membaca spesifikasi langsung dari file prototipe.
  • Biaya dan lisensi: apakah tool berbasis langganan per pengguna atau bisa dijalankan sendiri di server organisasi.
  • Kurva belajar: berapa lama anggota tim baru bisa produktif tanpa pelatihan panjang.

Figma: Standar Tim Produk Modern

Figma menyatukan desain antarmuka, prototyping, dan komentar dalam satu berkas berbasis browser. Mode prototyping-nya memakai koneksi antar frame, smart animate, dan komponen dengan varian yang bisa diganti langsung saat prototipe berjalan.

Kekuatan utamanya ada pada kolaborasi. Beberapa desainer bisa menyunting file yang sama tanpa mengirim versi bolak-balik, dan developer bisa membuka panel inspeksi untuk membaca ukuran, warna, serta jarak antar elemen. Untuk tim yang perlu membangun design system lalu memakainya berulang di banyak proyek, cara kerja ini menghemat banyak waktu.

Batasnya muncul ketika prototipe butuh logika rumit. Ekspresi kondisional, penghitungan nilai, dan simulasi data dinamis perlu ditambahkan lewat plugin atau tools tambahan. Kalau kamu sering menguji skenario dengan banyak cabang keputusan, keterbatasan ini terasa.

Penpot: Alternatif Open Source untuk Kontrol Penuh

Penpot menyediakan alur kerja yang mirip Figma, termasuk komponen, varian, dan prototipe berbasis tautan antar papan. Bedanya, Penpot bisa dipasang di server sendiri dan format filenya terbuka, berbasis standar web.

Bagi organisasi dengan aturan ketat soal penyimpanan data, kemampuan menjalankan tool di infrastruktur internal menjadi pertimbangan besar. Tim juga tidak bergantung pada keputusan harga satu vendor. Sejumlah instansi dan perusahaan dengan tim desain kecil memilih jalur ini.

Keterbatasan Penpot ada pada ekosistem. Jumlah plugin dan sumber belajar belum sebanyak Figma, jadi tim perlu lebih siap mencari solusi sendiri ketika menemui kebutuhan khusus. Integrasi dengan layanan pihak ketiga pun tidak selengkap pesaingnya.

Axure RP: Prototipe dengan Logika Seperti Aplikasi

Axure RP mengambil pendekatan berbeda. Interaksi dibangun lewat panel yang mengatur event, kondisi, dan aksi, mirip cara kerja pemrograman visual. Setiap elemen bisa punya beberapa state, dan variabel global memungkinkan prototipe menyimpan pilihan pengguna dari satu layar ke layar berikutnya.

Kalau kamu perlu menguji alur yang bergantung pada input sebelumnya, misalnya simulasi proses klaim asuransi dengan percabangan aturan, Axure memungkinkan membuatnya tanpa menulis kode. Prototipe seperti ini terasa hampir seperti aplikasi sungguhan saat diklik.

Harga dan kompleksitasnya jadi pertimbangan. Axure bekerja sebagai aplikasi desktop, tidak berbasis browser seperti dua tool sebelumnya, sehingga kolaborasi real-time tidak semulus Figma. Tim yang memakai Axure biasanya menunjuk satu orang sebagai penanggung jawab prototipe supaya file tidak pecah.

Perbandingan Singkat

Aspek Figma Penpot Axure RP
Basis Browser dan desktop Browser, bisa self-host Aplikasi desktop
Kolaborasi real-time Kuat Baik Terbatas
Logika kondisional Perlu plugin Terbatas Bawaan
Ekosistem plugin Luas Sedang berkembang Kecil
Cocok untuk Tim produk umum Organisasi dengan kontrol data Alur kompleks

Menyesuaikan Tool dengan Tahap Proyek

Banyak tim memakai lebih dari satu tool. Fase eksplorasi cepat biasanya berjalan di Figma atau Penpot karena perubahan desain lebih mudah dilakukan. Setelah konsep mengeras dan perlu diuji dengan skenario yang rumit, prototipe dipindahkan ke Axure.

Pendekatan campuran ini punya konsekuensi. Setiap perpindahan tool berarti pekerjaan membangun ulang, jadi putuskan sedini mungkin prototipe mana yang butuh detail tinggi. Kalau tujuan utamanya mengevaluasi kemudahan penggunaan alur dasar, prototipe sederhana sudah cukup dan tidak perlu perpindahan. Sebelum menjalankan sesi pengujian, ada baiknya menyiapkan rencana evaluasi yang jelas agar hasilnya bisa ditindaklanjuti, seperti dibahas pada panduan memilih metode evaluasi usability untuk produk digital.

Untuk tim yang rutin menguji formulir, membangun prototipe dengan pelabelan dan pesan error yang realistis akan menghemat waktu di tahap berikutnya. Cara mengukur hasilnya bisa mengikuti pendekatan pada tulisan tentang mengukur usability formulir pendaftaran dengan task success rate.

Ringkasan

Figma paling masuk akal untuk sebagian besar tim produk karena kolaborasi dan ekosistemnya matang. Penpot menjadi pilihan ketika kontrol atas data dan biaya jangka panjang lebih penting, meski dengan ekosistem yang lebih kecil. Axure RP tetap unggul untuk prototipe yang butuh logika mendekati aplikasi sungguhan. Pilih berdasarkan jenis prototipe yang paling sering kamu buat, bukan berdasarkan fitur terbanyak.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah Figma cukup untuk membuat prototipe high-fidelity?

Cukup untuk sebagian besar kebutuhan, termasuk animasi transisi dan komponen bertingkat. Keterbatasan muncul ketika prototipe harus menyimpan input pengguna atau menjalankan aturan bercabang, karena itu perlu plugin atau tool tambahan.

Bisakah Penpot menggantikan Figma sepenuhnya?

Bisa, kalau kebutuhan tim tidak bergantung pada plugin tertentu dan integrasi pihak ketiga. Alur kerja dasarnya mirip, tetapi tim perlu siap menyesuaikan diri dengan ekosistem yang belum selengkap Figma.

Kapan sebaiknya memakai Axure RP?

Saat prototipe perlu mensimulasikan logika, misalnya form bertingkat dengan aturan validasi, perhitungan harga, atau alur persetujuan. Untuk sekadar demo perpindahan layar, Axure terasa berlebihan.